Sunday, April 29, 2007

alibi sempurna

akhir-akhir ini Dian sibuk dalam sebuah penggarapan Buku yang yach... semoga bisa cepat terbit, he3x.. dalam proses tersebut Dian juga sibuk dalam sebuah pemotretan. well, singkatnya Dian lagi ngerjain SkRiPsi yang bertema Sejarah Preservasi Kota dengan judul "Citra Kawasan Alun-alun Tugu Kota Malang sebagai Kawasan Bersejarah menurut Persepsi Masyarakat" he3x itu juga kalo ga disuruh ganti judul ma Dosen.

penggarapan materi meliputi cuap-cuap berlandaskan isu yang diada-adakan mengenai latar belakang penggarapan dan pemilihan judul, kutap-kutip sana-sini untuk tinjauan pustaka, pusing-pusing ria menentukan variabel penelitian, kecap sana kecap sini memberikan gambaran umum, stress-stress ria menganalisis dengan sedikit bumbu manipulasi *akibat keterbatasan biaya, tenaga dan pikiran*... semua sudah terselesaikan dan menunggu revisi dosen asisten.
beberapa input non menambahkan cuap-cuap dan kecap dan tak bisa dimanipulasi: "tolong analisisnya lebih spasial lagi ya, ditambahkan foto-foto untuk photo maping"

huhihahuhu... berhubung si Nikon CoolPix4300 ngambek kalo diajak poto siang hari, akhirnya Dian meminta tolong temen kantor-nya Dian yang punya mainan baru si Canon EOS350d... dimulailah kegiatan pemotretan kawasan Alun-alun Tugu, meliputi taman dan bangunan bersejarah (Balaikota, SMA Tugu, Stasiun KA) serta kawasan...
sesi pemotretan I, banyak menghasilkan poto-poto yang tidak bisa dan tidak mungkin sesuai untuk photo mapping, dan berakhir menjadi koleksi pribadi dan upload-an di FN-nya temen kantor-nya Dian *huakaka.. singkatnya Dian kalap n jadi narzis minta dipoto terus* iiituuulahhh hambatan pertama dalam sesi pemotretan penggarapan Buku-nya Dian.
hambatan kedua adalah... diliatin orang dan kemudian ditanya-tanya oleh aparat. Dian dilanda dilema. penjelasan pun diberikan dalam berbagai versi. versi pertama, untuk kepentingan skripsi, malah dimintain surat survey yang birokrasi-nya ribet. so menghindari hal tersebut muncul versi kedua, cuman pengen poto-poto untuk koleksi pribadi, malah dikira wartawan.. wedew, krucil kalik! jelas-jelas kita berdua hanyalah bagian dari masyarakat Kota Malang yang emang cuma pengen poto-poto dengan bagian-bagian kota Malang tercinta. sungguh suatu niat mulia bukan? tapi para aparat seperti mengendus gelagat aneh dari kami... hedeh... bahkan ada yang bilang:
"masa kalian asli Malang? kalo orang asli sini biasanya ga tertarik motret-motret beginian.. ni biasanya kerjaan orang luar Malang"
loh kok gitu sih... Dian kan emang suka ama bangunan kolonial gitu, kalo perlu tak beli semua bangunan peninggalan Belanda di Kota Malang trus Dian jadiin Malang sebagai kota museum bangunan kolonial, saking aja Dian ga ada duit ga ada kuasa juga. ha3x, jadi inget obrolan ym! Dian ama Deetje di waktu kapan itu.
pada sesi pemotretan kedua... dengan tema: lighting kawasan di malam hari.. setelah beberapa kali menyampaikan penjelasan dengan versi berbeda-beda kepada aparat maupun petugas setempat, akhirnya Dian mendapat versi ketiga yang cukup reasonable dan dapat dimaklumi,
yaitu dengan mengambing-hitamkan temen kantor-nya Dian. huakaka... sambil menuding temen kantor-nya Dian yang nungging sana-sini ga karuan ngatur kamera, tripod, dan lensa-nya... Dian menjelaskan: "ini loh Pak, temen saya lagi otodidak di fotografi, ya fotografer amatiran lah... maklum hobi baru, jadi lagi seneng2nya juga cobain kamera baru-nya"

yup.. sungguh suatu alibi sempurna sebagai bekal sesi pemotretan ketiga yang udah Dian bikin list hal-hal yang harus dipoto. guna menggantikan sesi pemotretan pertama yang terlalu banyak poto-nya Dian daripada bangunan dan kawasan yang harus dianalisa. yach tapi seperti yang dikata temen kantor-nya Dian, "kalo sudah di lapangan list hanya lah sebuah list". mo tarohan brapa, pasti ntar bakal kumat narzis-nya...
ps: foto-foto narzis sengaja tidak dilampirkan dikarenakan terlalu banyak dan bingung memilihnya, he3x...

7 comments:

aLe said...

skripsi neh...
semangat yow... moga2 cepet kelar. aMin..
klo uda terbit makan kaman yach ;)
eh, ntar dateng k matos khan..

zam said...

hiya.. paling sebel kalo ditanyain macem-macem gr2 bawa kamera. pernah tu aku dikira wartawan. sekalian aja aku bilang, wartawan INTERNET!!

rese banget sih itu keparat eh aparat.. masak orang Malang sendiri ndak boleh memotret kotanya sendiri..

kalo aku sih cuek aja yan.. mungkin tu aparat iseng. cuma pengen ndeketin kamu.. :)

eh, keren banget tuh keretanya.. kolonial banget..

ah, cant wait to see Kota Lama Semarang..

ayo.. Mei harus KELAR!!!

SEMANGAT!!!!

Leo said...

Semoga sukses dgn buku ama...Skripsinya...awas kebalik..buku jadi skripsi..skripsi jadi buku..yahh

kreaziku said...

terima kasih ya...
pinter bikin alibinya...
terima ini...b-(

CacingKepanasan said...

Wah kayaknya enak banget foto2, jadi pengen. *ngiler

Fa said...

wah, tempat analisa data yg udah pake SPSS 15 di Malang ndek endi yo Yan? *EMERJENSI* :D

octa said...

Baru tau aku ada kereta jaman dulu gitu di mlg