Tuesday, February 16, 2016

cerita hijab saya

saya lahir di keluarga muslim, dididik dan dibesarkan dengan pengenalan dan pengamalan ajaran Islam. sebagai anak perempuan, sejak kecil saya diberi pengertian tentang kewajiban untuk menutup aurat. orang tua saya tidak memaksakan atau memakaikan hijab kepada saya sejak kecil. bagi mereka yang terpenting saya memahami bahwa muslimah wajib menutup aurat di depan orang yang bukan muhrim nya. pembicaraan tentang memakai hijab adalah salah satu diskusi saya dengan mama secara santai dan tidak banyak tuntutan. pernah ketika saya masih SD saya mengatakan ke mama nanti saja pas SMP, eh SMA, eh kuliah, eh ... hingga akhirnya mama meninggal pada 10 Juni 2010 dan saya kehilangan teman diskusi dan panutan saya.

keinginan berhijab selalu saya sematkan dalam hati. memantapkan diri untuk mulai berhijab lah yang masih ditimbang-timbang. pada Juni 2009 ketika saya interview pertama kali di perusahaan tempat saya bekerja sekarang, saya pun menanyakan, "jika saya nanti memutuskan untuk berhijab, apakah ada ketentuannya untuk posisi yang akan saya tempati?", dan saya mendapatkan penjelasan bahwa untuk posisi front-liner ketentuan yang berlaku saat itu seragamnya tidak boleh berhijab, namun di posisi lain diperbolehkan. ok, dapat dipahami.

pertengahan tahun 2012 keinginan berhijab semakin bertambah. saya bersyukur karena selama saya kost dan kerja di Jakarta selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik. saya mulai membaca kisah-kisah inspiratif yang dapat menghibur kedukaan saya atas perginya mama dan menginspirasi saya untuk lebih ikhlas dan tawakal. hingga pada Desember 2012 saya membaca artikel tentang gadis yang memilih terlihat cantik di mata Pencipta nya. sesuatu dalam cerita tersebut menggugah hati dan menyadarkan saya, hingga saya memutuskan untuk mulai belajar berhijab sejak Januari 2013.

saat itu saya sebut belajar karena saya belum memiliki banyak baju yang tidak ketat dan menutup aurat. belajar karena saya yang tomboi dan cuek berusaha menata diri menjadi lebih dewasa. belajar dan berharap saya mampu menjalani cobaan yang akan menggoyahkan tekad saya untuk berhijab. cobaan pertama tentunya adalah tuntutan pekerjaan yang belum membolehkan seragamnya untuk berhijab. namun saat itu saya tanggapi dengan fleksibel dan yang namanya juga belajar, sehingga saya berhijab ketika berangkat-pulang kantor dan jika main keluar kost. saya tidak berhijab pada saat jam kerja sesuai posisi tugas saya. setahun penuh saya lepas-pasang hijab. aneh memang... di satu saat orang melihat saya tak berhijab, satu saat lainnya mereka melihat saya berhijab. bahkan ada seorang teman expatriat yang secara langsung bertanya kepada saya, "kenapa kamu lepas-pasang hijabmu, kenapa tidak kamu pakai saja sepanjang hari?" dan saya pun menjelaskan karena ketentuan perusahaan terhadap posisi saat ini. lebih lanjut dia menanyakan, "are you comfortable with that?", yang hanya bisa saya jawab, "no, but i have no choice at the moment".

saya lupa pada akhir 2013 atau awal 2014, saya memantapkan diri saya untuk memilih berhijab dan hal ini pun saya sampaikan pada atasan saya. bahwa saya sudah mantap untuk full-berhijab dan sudah tidak nyaman berlepas-pasang hijab lagi. dengan bijak beliau berkata akan akan berkonsultasi dengan atasan kami untuk solusi yang terbaik. dan kami berdua pun menyiapkan hati untuk kemungkinan bahwa kami tidak akan satu tim lagi. disini saya merasakan cobaan antara memakai hijab dan melepaskan posisi pekerjaan yang sudah saya rintis bertahun-tahun. tak hanya itu, saya mendapat cobaan lagi ketika papa berpulang pada 8 Januari 2014. saya semakin bimbang dan bertanya-tanya, saya harus beradaptasi dengan kondisi tanpa orang tua, merantau di Jakarta, masih harus beradaptasi dengan pekerjaan baru atau yang terburuk beradaptasi dengan perusahaan baru jika memang saya harus resign.

saya hanya bisa pasrah, banyak berdoa dan tawakal, dan belajar untuk lebih ikhlas. saya hanya berharap bahwa Allah akan menguatkan niat saya dan memberikan jalan yang terbaik.

pertengahan 2014 saya bergabung dengan tim baru pada posisi yang dapat mengakomodir saya untuk berhijab secara full, masih di perusahaan yang sama tempat saya bekerja saat ini. saya bersyukur bahwa saya mendapat jalan keluar yang terbaik. meskipun posisi baru ini terasa berat karena saya harus cepat belajar untuk menguasai tuntutan pekerjaannya yang selalu dinamis. terkadang saya pun menangis sendiri di kost-an untuk melepas penat dan menenangkan diri. saya pun banyak berdoa untuk lebih dikuatkan dan diberikan yang terbaik lagi.

saya bersyukur karena sekarang hijab adalah bagian dari diri saya. hijab melengkapi, menguatkan, mendewasakan dan secara tak langsung selalu mengingatkan atau menjaga diri saya dalam keadaan sadar dan berpikiran jernih dalam menghadapi cobaan atau masalah.

inilah cerita hijab saya yang tak akan bosan saya ceritakan berulang kali setiap ada teman yang menanyakan, "sejak kapan?", "kenapa?", dan "apa yang membuatmu memutuskan berhijab?". saya bukan ahli agama, saya bukan pendakwah, saya hanya orang yang masih terus belajar namun saya memiliki komitmen untuk selalu berbuat kebaikan, seperti halnya yang diajarkan orang tua saya. saya tidak berani menggurui orang lain, namun saya berharap cerita saya mampu menginspirasi orang lain ke arah kebaikan apapun itu.

2 comments:

eriek said...

pertolangan Allah kepada hamba-Nya yg dengan niat berhijab diberi kemudahan. semoga istiqomah :)

tjahaju said...

@eriek: amiiin. ujian Allah pasti ada, namun kita juga diberi kekuatan dan kemudahan untuk melaluinya =D