Tuesday, December 11, 2007

pre-colonial to colonial city

Ir. Herman Thomas Karsten melukiskan geografis kota Malang sebagai berikut: "Malang terletak di daerah perbukitan di Jawa Timur kira-kira 85km sebelah Selatan kota Surabaya. kota ini semenjak dahulu beruntung karena letaknya yang baik. sebab kota tersebut terletak di jalan raya Utara-Selatan dari jaman kerajaan Jawa kuno, dimana bertemu 3 buah lembah yang masing-masing mempunyai jalan dan sungainya sendiri-sendiri. dari sudut Barat-Laut datanglah Kali Brantas, dari Utara datang Kali Bango dan dari Timur datang Kali Amprong. sedangkan lembah yang keempat dimana ketiga sungai ini menjadi satu, yaitu Sungai Brantas, meneruskan perjalanannya menjulur ke Selatan".



sebenernya kota Malang tuh udah eksis sejak taon 1400-an, pas jaman pra-kolonial alias jaman kerajaan. dari buku Kotapraja Malang 50 Tahun (1964:12) bilang..
Malang sebagai pusat kerajaan emang udah ada sejak taon 1400, pusat kerajaannya ada di tikungan Sungai Brantas *baru tau ini deh kalo sungai punya tikungan, apa ada traffic light nya juga ya ^^* dan dibangun benteng besar dinamai Kutobedah. trus taon 1461, Malang dikuasai Demak dan ada di bawah kekuasaan kerajaan Islam. sampe ada perebutan kekuasaan lagi, jadinya taon 1686-1706 Malang ada di bawah kekuasaan Untung Suropati yang memerintah di daerah Pasuruan.
trus pada masanya ekspansi Sunan Mataram, Malang ditaklukin juga... nah waktu mo naklukin Malang nih, rakyat ma pimpinan kota selalu membantah alias malang alias menghalangi niat Sunan Mataram, and so... sejak itu kota ini dinamakan Malang.
taon 1767, Belanda menguasai Malang dan mulai membangun benteng atau loji di (sekarang jadi RSU Saiful Anwar). *loji sebutan untuk daerah perbentengan, berkembang jadi ke-loji-an, akhirnya daerah itu disebut Klojen.. sampe skarang*
Taon 1821, Belanda mengekspansi Malang dan mantep menduduki Malang, tapi masih dibawah karesidenan Pasuruan. Baru taon 1824 punya asisten residen...

taon 1870, Pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan keputusan politik UU. Gula (Suikerwet) dan UU. Agraria (Agrariaschewet). Kedua UU itu ditujukan untuk menghapus Cultuurstelsel (tanam paksa) dan memunculkan inisiatif perdagangan pada pihak swasta *yang juga memunculkan meneer, sinder, ato tuan tanah setempat*. karena secara geografis Malang dikelilingi daerah perkebunan, setelah taon 1870 Malang sebagai Governemeent Settlement yang terdekat dengan daerah perkebunan sekitarnya, mulai dibangun infrastruktur transportasi dan komunikasi.. untuk memudahkan hubungan, taon 1876 dibuka jalur hubungan kereta api Surabaya-Pasuruan-Malang. juga dibangun jalan raya yang menghubungkan Malang dengan Blitar dan Kediri di sebelah Barat. semua infrastruktur dibangun untuk kepentingan ekonomi pemerintah kolonial, secara gitu loh.. kota Malang sebagai daerah produksi musti dihubungin dengan Surabaya kota pesisir sebagai daerah distribusi hasil bumi dari daerah pedalaman (hinterland) macem Blitar dan Kediri.

anyway.. taon 1882, orang mulai membuat rumah di sebelah Barat sungai Brantas dan membuat alun-alun. jadi kalo di kota-kota lain, Alun-alun ada sebagai produk pra-kolonial alias jaman kerajaan, kalo di kota Malang dimunculkan pada masa kolonial sebagai pusat administrasi kolonial dan untuk membentuk citra kolonial. tentunya untuk tujuan kepentingan ekonomi kolonial juga, which is tujuan produksi dan kontrol hasil perkebunan tadi. Malang yang juga ibukota kabupaten dijadiin sebagai pusat pengumpulan produksi bagi daerah subur sekitarnya. Alun-alun, sebagai pusat pemerintahan, dihadirkan Belanda sebagai pusat kontrol dan pusat administrasi-nya.

so.. our next story it would be: Alun-alun ^^


sumber: Handinoto, 1996.

17 comments:

zaM said...

tulisan bagus, ini bisa jadi content buat materi blogger malang kalo entar udah online

isnuansa said...

saya masih suka bingung dengan Kab. Malang, Kota Malang dan Kota Batu. Emang ada 3 ya Malang? :)


isnuansayangpengenpresidenperempuan

isnuansa said...

Lho, link nya kok ga muncul ya diatas?


isnuansayangpengenpresidenperempuan

Nananging Jagad said...

Oo...ngono to rek critone, agi ngerti inyong.

Nderek mampir

angin-berbisik said...

yg jelas malang kotanya suejuk...suejuk....monggo..mampir ning malang!!!

Fa said...

wes, besok nyalon bupati ato walikota saya ya Yan :D

Harrie said...

Nduk, bisa dijelasin kenapa daerah sampeyan disebut "MALANG" ? Apakah dulu nenek moyangnya berasal dari PEMALANG, atau malahan dari negri jiran MALANGSIA..

fahmi! said...

ah, informasi bagus. bermanfaat nih, bisa buat referensi kalo perlu informasi tentang malang :) tulisan alun2nya ditunggu :)

Anang said...

malang kota dingin yang ngangenin hehehe

fragaria said...

malang kan kota asalnya temen sekamar saya.... tapi sayanya belum pernah ke malang :P

zam said...

hoho.. latar belakang tiap kota ternyata beda-beda ya..

menarik, ini..

eh, kalo liat polanya, kenapa setiap peradaban selalu berawal dari pinggir kali, ya?

apakah kali merupakan sumber air yg berujung pada sumber kehidupan?

alun-alun juga begitu. punya fungsi tertentu dalam ruang tata kota.

ditunggu cerita selanjutnya.. :D

eRween said...

iki lek kerjaane arek pwk rek....iyo2 wes lulus

kw said...

hmm aku ingat pelajaran sejarah kota-kota dulu
nice post

CempLuk said...

ditunggu cerita kota malang berikut nya y mbak..

noki_afandi said...

huaaaah. hh ngantuk ntar siang aja deh balik lagi

Maruria said...

asik baget tuh kota ya...
dulu pernah ke malang, tapi cuman nginep si batu aja. ga sempet jalan2.
kalo aku ke malang, harus mau jadi gait dadakan ya......

timoerdjaoeh said...

aku kangen ama tahu petis yang di alun-alun itu... udah lama banget kayanya ga makan tahu petis malang. ama tahu telor di pojok depan mitra.