Saturday, November 28, 2020

I’m Positive Covid-19

Shocked.. yup. Denying.. yup. Anak-anak gimana.. orang serumah gimana..

Jadi guys, dalam masa pandemi virus corona ini dan sambil nunggu vaksinnya ditemukan.. ikutin anjuran pemerintah dan sosialisasinya which is 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak), #tetapdirumah tahan diri untuk tidak jalan-jalan. Jika keluar rumah karena harus beli sesuatu yang ga bisa di-cover layanan pesan-antar, atau karena harus keluar rumah karena-kalo-ga-bisa-stress-di-rumah maka kembali ke disiplin 3M tadi. Selain itu ada 3T (testing, tracing, treatment).

Ceritanya karena temen ada yang terkonfirmasi positif covid-19 dan sempat kontak meski kami menerapkan 3M, jadinya saya test swab PCR. Karena saya swab, maka suami test swab juga, just to be safe. Selama menunggu hasil test, kami isolasi mandiri dan jaga jarak dengan anak-anak dan orang tua di rumah.

Hari 1 : 19 Nov 2020 saya dan suami tes swab PCR di lab berbeda

Alhamdulillah kami berdua dalam kondisi sehat, tidak ada gejala seperti: batuk, pilek, demam, sesak napas, nafsu makan hilang, indra penciuman hilang, dll. Karena menunggu hasil swab, kami pun work from home.

Hari 2 : hasil saya keluar, POSITIF covid-19

Kaget dong. Nyangkal dong.. ga percaya sama hasilnya. Menetes lah air mata karena ngebayangin anak-anak kena juga ga nih, orang tua kena juga ga ya.. setelah saya info hasilnya, suami gercep yang tadinya isolasi mandiri kami di lantai 2 dan yang lain di lantai 1, langsung disinfektan barang-barang yang sempat saya pegang di lantai 1 dan 2. Pembatasan area gerak saya hanya sebatas kamar tidur, kamar mandi, teras, semuanya di zonasi. Semua kebutuhan saya dimasukkan kamar, galon air minum, piring-gelas-sendok, meja kerja, dll. Lapor ke RT. Diskusi sama suami gimana-gimana nya. He’s the one who handled everything, sementara istrinya masih shock dan butuh waktu untuk proses ini semua.


Suami tempel duck-tape di lantai untuk batas area yang boleh saya lewati.

Hari 3 : orang rumah (kecuali anak-anak) tes swab PCR

Kondisi saya sehat meski bosan di dalam kamar. Cerita-cerita ama teman dekat biar terhibur.

Hari 4 : hasil suami keluar, NEGATIF

Alhamdulillah lega banget. 

Hari 5 : saya test swab PCR lagi

pas saya pergi test, ternyata orang puskesmas datang. Orang tua saya yang jelasin bahwa saya tidak ada gejala. tim Puskesmas menyarankan Isolasi mandiri di rumah dan memberikan obat untuk saya minum.

Obat dari Puskesmas.

Hari 7 : sore hari hasil orang rumah keluar, NEGATIF semuanya. Alhamdulillah, lega banget. Orang tua baik-baik saja.

Malam harinya hasil saya juga keluar, NEGATIF ! Alhamdulillah. super duper lega.

Lanjut diskusi sama suami, karena saya ada rasa menyangkal validitas lab tempat saya tes yang pertama, atau kemungkinan memang saya negatif sedari pertama, terlepas itu semua… Suami menegaskan hasil swab PCR saya yang pertama adalah Positif. Dan untuk tahu seseorang itu positif covid atau tidak, tes swab PCR yang paling pasti. Karena hasil rapid tes ataupun tes serologi tidak bisa mendeteksi detail seperti hasil tes swab PCR.

Meskipun saya sehat, maka saat ini saya adalah OTG (Orang Tanpa Gejala) dan harus melanjutkan isolasi mandiri selama 14 hari sejak hari 1 swab. Tujuannya ya daripada resiko menularkan buat orang serumah atau orang sekitar. End of discussion.

So guys, this virus is real. As real as the preventive action that we should do.

Hari 10 : hari ini, hari saya menulis ini.

Alhamdulillah sehat. Masih isolasi mandiri di lantai 2. Sesekali nyapa anak-anak dari atas. Menghitung hari, besok lusa bisa ngumpul sama anak-anak lagi.

“Hai mama… Kaia sayang mama ya”, trenyuh ga sih denger gitu dari anak 4 tahun.

Sedangkan yang bayi 11 bulan, seminggu ga ketemu gigi nya yang ke-4 udah numbuh!

Saya disini, suami disana.
Situasi 
 kami jika makan bersama atau ngobrol.

Hikmahnya adalah pencegahan itu penting guys. Menurut saya yang paling susah dari 3M itu adalah menjaga jarak. Tapi masa pandemi seperti ini, memang harus dijalani demi Kesehatan dan keselamatan Bersama.

Terima kasih atas doa dan support teman-teman yang sudah menyemangati agar cepat sembuh, cepat negative, dan mengingatkan untuk happy terus dan jangan stress.

 

Semangat sembuh dan Bahagia selalu!

Dari saya yang masih isolasi mandiri.

Monday, May 25, 2020

blog vs vlog

Maraknya video blog atau vlog akhir-akhir ini apakah membuat blog kalah pamor? Menurutku ga juga, karena sesekali menulis di blog terasa lebih personal dan punya 'feel' tersendiri. Bahkan kalo aku baca postingan2 terdahulu, 'feel' itu masih tersirat dari kata demi kata yang tersusun dala kalimat blog nya.

Beberapa moment memang ada yang lebih seru ditampilkan dalam bentuk vlog, lebih memudahkan audience juga untuk turut menyaksikan apa yang kita lihat dan abadikan dalam video. Aku pun mencoba menuangkan beberapa moment dalam bentuk vlog, enjoy juga pada saat editing nya. Apalagi sekarang ini banyak aplikasi2 gadget yang memudahkan editing sampai dengan share ke youtube nya.

Menulis blog lebih seperti menuangkan isi kepala kedalam tulisan. Sudut pandang kita terasa personal dan orisinil. Tidak ada aplikasi yang memudahkan, so menurutku blog lebih punya value dalam hal ini. 

Friday, March 27, 2020

when you are about getting married

get married is so exciting, isn't it? after all the journeys and efforts, the happiness and broken hearted you've been through, you finally meet and choose someone as "the one". you both decide to get married, make an announcements to the family and start the wedding preparation.



when all the preparation for D-day finished. all the dramas (internal or external) have been solved. there's something inside urge you with the question like, "are you sure with all of this?", "are you sure you're going to marry him/her?" and "what will happen after the wedding party?", etc.

that kind of questions will put the bride/groom-to-be in a situation or phase like self-doubt, want to run away from all of it, panic attack and other negative thoughts.

my opinion, keep praying and stay positive. such a cliche, huh? it is. because there's no manual book about it. every bride/groom-to-be will create their own manual book to over calmed this situation.

Sunday, March 22, 2020

benang ruwet

jadi harus aku ya yang ambil keputusan. menentukan pilihan. iya lah secara aku yang jalanin.
tiap keputusan akan berdampak buat sekitar.
aku mau pake krudung dan kerjaan tetep di departemen lama yg jenjang karirnya sudah kurintis sejak hari pertama kerja. sayang ga bisa dan skarang harus belajar dan rintis sesuatu yg baru dimana segala tantangannya bikin semangatku naik turun, kadang sukses dan love it, kadang putus asa dan want to drop it.
aku masih mau lanjut kuliah s2 dengan beasiswa. ngrintis karir dan accomplishing something, from nothing to something. 
aku masih mau cari stempel buat paspor ku dan mengunjungi lima benua.
aku masih mau berpetualang.
tapi aku mau ngumpul ma keluarga ku.
aku mau beresin urusan rumah yang mana buat aku can't drop everything here since like it or not the money can pay the bills.
headache.

*found this blog draft date november 8th, 2014 waktu itu serasa ada di persimpangan segala hal... 
sayang kalo di delete, jadi di posting aja di maret 2020, OMG been 6 years. 

a new role

tidak terasa sudah 9 tahun bekerja di tempat yang sama dan mengikuti perkembangan yang terjadi di korporasi perusahaan. yang mana imbasnya adalah, saya sebagai karyawan juga harus mengembangkan diri, tidak hanya secara keterampilan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu tetapi juga keterampilan lainnya.

salah satu yang menjadi tantangan saya saat ini adalah keterampilan untuk memimpin sebuah tim, a leadership skills. i was and always be a good team player, whoever the leader is, i always focus to finish the task and achieve the target based on corporate vision. 

memang sebelumnya atasan seperti "setengah melepaskan" beberapa hal karena sedang menempuh studi S3. mmmhh, beda tipis sih antara setengah melepaskan dan ga kepegang... but look at the positive side, beliau memberi kepercayaan pada saya untuk take a lead some tasks.

hooe everything will be fine and any goals achieved. 

Sunday, January 27, 2019

jomblo harus baca ini: cara dapat pasangan

kenapa harus baca? karena saya akan menuliskan bagaimana mendapatkan pasangan. kenapa saya sok tahu? karena saya been there, done that, got the t-shirt. mungkin anda berpikir, iya saya sekarang sudah menikah, jadi gampang buat saya ngomong atau nulis kayak gini. well, fyi saya juga pernah jomblo 32tahun, mengalami patah hati, diduakan, tengsin, di PHP, ditanya mulai dari pacarnya mana sampai kapan nikah. so i am a lil bit expert on this :))

sebagai catatan tips ini termasuk relatif ya, bisa cocok dengan anda, bisa juga tidak. karena tidak semua memiliki sudut pandang yang sama terhadap sesuatu. shall we start it?


cara dapat pasangan versi tjahaju:

1. pantaskan dirimu
ini aku pernah denger dari salah satu cocotan Mario Teguh, which i find relevant enough. tanyakan pada diri anda sendiri, sudah pantaskah anda mendapatkan pasangan? apa yang membuat anda pantas ditaksir seseorang? in other words, ngaca dulu dan temukan hal positif pada diri trus maksimalkan, temukan hal negatif pada diri trus minimalkan.
contoh: kewajiban ibadah misal sholat, udah 5 waktu kah? kalo belum maka harus full 5 waktu, jika sudah maka jadikan setiap waktunya di awal waktu. misal ibadah ke gereja, tiap minggu ke gereja kah? jika belum maka ke gereja lah, jika sudah maka datanglah misa yang paling awal.
contoh lagi: belum diterima kerja, maka lakukan hal-hal yang membuat anda pantas diterima kerja. biasakan bangun pagi, mandi pagi, apply kerjaan meskipun via web kalo perlu anda dalam outfit yang seperti akan berangkat interview, kenapa? coz you are sending a good vibe when you're clicking those button.
contoh lagi ya: grooming. dandan. ojok mbambes. ya memang sih anda berpikir be myself, inilah diriku.. tapi coba pikir deh, kalau anda terlalu mbambes, apakah diri anda sendiri mau melihat diri anda sendiri?

2. miliki prinsip.
anda harus memiliki prinsip personal dalam diri anda. begitu anda memiliki prinsip, otomatis kriteria pasangan akan terbentuk dengan sendirinya. prinsip hidup otomatis juga akan memfilter para kandidat pasangan sampai ke "the one". kalo ada yang tidak sejalan dengan prinsip anda, maka dia bukan "hte one". tapi jika ada yang bisa menghargai prinsip anda, tidak mengekang bahkan bisa beriringan menjadi dewasa bersama dengan prinsip yang sudah anda pegang, maka dia layak dipertimbangkan.
prinsip tidak bisa dirubah, tapi bisa dikompromikan selama tidak melenceng jauh. bingung ya? but you will know when the time is come. be patient and strict to it.
contoh: saya memiliki prinsip pasangan saya harus seiman dan selalu sholat 5 waktu. ini prinsip yang tidak bisa ditawar. jika ada kandidat yang tidak memenuhi kriteria saya itu, ya antara saya yang mundur teratur atau dia nya yang ga tau kenapa ngilang sendiri. kompromi yang pernah saya lakukan? ya fine berteman baik dan spesial saja, tetapi akan kembali ke prinsip bahwa dia bukanlah "the one". hahaha... namanya juga masa-masa pencarian, having fun without crossing a line is a must.

3. bobot, bibit, bebet
yang ini aku ga full banget sih, karena pada dasarnya saya besar di keluarga modern yang mengutamakan kejujuran. intinya untuk decide "the one" paling tidak kita tahu bagaimana dia dibesarkan dan family value nya. apakah kita bisa fit in dan cope dengan keluarganya dan juga sebaliknya apakah dia bisa fit in dan cope dengan keluarga kita. memang yang menjalani adalah anda dan dia, tetapi bagaimanapun kalian adalah bagian dari sesuatu dan kalian harus figuring out how to make it works in the future.

4. open your heart and mind.
jangan berprasangka, jangan berpikiran tertutup, stay positive. it will make you glow from the inside. semuanya memang tidak instant ya. jika kita berusaha menjadi lebih baik, kita akan dikelilingi hal-hal yang baik. lihat sekitar, terkadang jawabannya itu sudah di depan mata, hanya saja kita tidak menyadarinya.

5. berdoa
pacaran lah sering-sering dengan Tuhan, berdoa dan ceritakan pada Nya, kandidat-kandidat yang anda temui. mintalah agar Tuhan pertemukan dan menyatukan dengan yang terbaik.

sudah... do five things above continously... and i think within 3-6months anda sudah akan merencanakan pernikahan. amiiin.. hahaha...

Friday, January 4, 2019

2019

hampir setahun sudah saya mengabaikan blog ini *maafkan* berkurang waktu untuk merenung, intropeksi, dan menulis. seperti pada umumnya sibuk dengan sehari-hari keluarga, pekerjaan, dan ambil yang instant saja seperti instagram atau facebook untuk menitipkan moment atau memori dengan caption yang seadanya.

apakah akan ada perubahan mulai 2019. harus! dan itu harus ke sesuatu yang lebih baik!

Wednesday, January 3, 2018

2018

intropeksi yang "sempat" saya lakukan pada liburan tahun baru 2018 adalah saya terlalu banyak follow akun jualan atau selebgram. rasanya nyaman sekali sekarang setelah unfollow mereka. bagaikan melakukan "decluttering" metode konmari.
kebetulan sekarang sudah berubah ke mode apa-apa untuk anak, jadi menyisakan beberapa akun jualan untuk keperluan anak. sekarang ini instagram saya lebih mengarah pada kategori home organizing, parenting tips, sedikit gosip dan politik, dan sekelumit royal family.

sepertinya saya sedang menjalani sebuah fase transisi yang belum bisa saya terjemahkan ke dalam kata-kata. saya berusaha memahami suatu proses yang sedang berjalan di sekitar saya. semoga saya segera mendapatkan jawaban atau pemahaman yang mampu memberikan kedamaian pada pemikiran saya.

Sunday, December 31, 2017

terima kasih 2017

sepertinya waktu berjalan cepaaat sekali, ga terasa kita sudah di penghujung tahun 2017. Alhamdulillah diberi rejeki umur dan kesehatan untuk menyambut tahun 2018. 
segala sesuatu memiliki prosesnya masing-masing, dan sebagai manusia kita harus bersabar dan tetap berusaha melakukan yang terbaik dan untuk kebaikan. saya sih resepnya masih sama, berusaha untuk ikhlas, ihtiar, bersyukur dan rendah hati dalam segala hal.
sampai ketemu di tahun depan ya, tahun 2018 :)

Wednesday, May 3, 2017

menjadi ibu

rasanya tak terdeskripsikan dengan kata-kata selain Allah Maha Besar. setelah 9 bulan janin itu bertumbuh-kembang di dalam rahimku, ia pun terlahir sehat dan dikelilingi dengan banyak cinta. sungguh Allah Maha Pengasih, telah menganugerahkan kami putri cantik yang menambah kebahagiaan keluarga.



"menjadi ibu".., dalam sekali ya kalimat yang terdiri dari dua kata itu. bagi saya terdengar seperti perjuangan, tanggung jawab, harapan, pengorbanan, berserah, panutan, masa depan dan lain sebagainya menjadi satu dalam diri.

"menjadi ibu" artinya tidak hanya ketika si jabang bayi terlahir dari rahim kita. bagi saya, seseorang sudah menjadi ibu (atau ayah) sejak ia mendambakan buah hati dan berkomitmen untuk memberikan yang terbaik baginya kelak. 

buat para calon ibu (atau ayah) di sana yang masih mendambakan buah hati, yang sedang berusaha (dari konsultasi dokter hingga menjalani program kehamilan) dan yang sedang menanti kelahiran bayinya atau (innalillahi) kehilangan bayinya... ingatlah, anda sudah "menjadi ibu (atau ayah)". karena apa yang anda lakukan adalah sebuah perjuangan, tanggung jawab, harapan, pengorbanan, berserah, panutan dan masa depan seperti yang seorang ibu (atau ayah) lakukan kepada buah hatinya.

ketika Allah Maha Pemberi menganugerahkan rizqi tersebut, Allah akan memberi kekuatan dan memampukan diri anda dalam menjalankan komitmen memberikan yang terbaik untuk si buah hati.

semangat!