Thursday, April 24, 2008

Jam Lonceng Kakung

salah satu warisan almarhum Kakung yang sangat berharga di rumah adalah Jam Lonceng. bagi saya benda yang satu ini bernilai tinggi karena menyimpan kenangan indah saya dengan Kakung. selain itu jam ini udah termasuk barang antik. orang serumah sepakat untuk tidak menjual jam lonceng ini, sayang banget, mending jadi barang warisan turun-temurun aja ntar. bahkan bisa jadi kelak saya harus menyiapkan pengacara untuk melawan kakak saya dalam memperebutkan hak waris jam lonceng ini, hekekeke...
jam lonceng Kakung berukuran 42x25x10 cm, merupakan jam dinding merk SEIKO (Japan) dengan model sederhana, kecil tapi suara lonceng-nya nyaring banget.

dulu ketika saya masih TK, Kakung mengajari saya tentang cara kerja-nya. jam ini tidak menggunakan baterei alias manual dan mekanisme kerja-nya didasarkan pada pemutaran kunci yang dilakukan tiap sebulan sekali. mmhh... hampir sama dengan cara kerja kotak musik. jadi jika kunci lupa (tidak) diputar, jam-nya akan berhenti, yang sebelumnya diawali dengan gejala jam-nya lebih lambat dari waktu yang sebenarnya. sejak itu, kegiatan memutar jam lonceng bersama merupakan salah satu kenangan favorit saya dengan Kakung, we were spend a quality-time together. waktu itu sambil memberi instruksi, Kakung menggendong saya di pundaknya, ato memegangi badan saya yang berdiri di kursi tinggi... jadi kangen Kakung.

anyway, ini nih cara menyetting jam lonceng-nya Kakung. kemungkinan secara umum sama juga untuk jam lonceng lain dengan merk dan model yang berbeda:

  1. hal pertama yang harus diperhatikan ketika memasang jam dinding ini adalah posisinya. jam harus menempel di permukaan tembok yang rata, dan harus benar-benar tegak lurus dengan bumi. dalam hal ini kita dimudahkan dengan garis vertikal berwarna merah di bagian pendulumnya. garis tersebut harus lurus dengan besi penanda di bawahnya. jika sudah tegak lurus, berarti posisi peletakan jam sudah benar, dan bisa dipatenkan dengan memasang paku diantara kaki besi di bagian bawah jam.
  2. setelah jam terpasang di dinding, hal berikutnya adalah memutar kunci. di bagian penunjuk waktu terdapat dua lubang kunci. pada lubang sebelah kiri, kunci diputar ke arah kanan. sedangkan pada lubang sebelah kanan, kunci diputar ke arah kiri. kunci diputar terus sampai dia stuck dan ga bisa diputar lagi. *Kakung tidak menjelaskan kepada saya apa fungsi kedua lubang kunci itu, mungkin yang sebelah kiri untuk mekanisme penunjuk jam dan yang sebelah kanan untuk penunjuk menit. mungkin lo ya...*
  3. lalu kita mencocokkan waktu. misalnya sekarang pukul 4, maka jarum yang panjang kita putar ke kanan. putarnya ga asal putar, tiap di angka 6 dan 12 musti berhenti dan membiarkan suara loncengnya berhenti berdentang. setelah menge-set waktu, sekarang menge-set tanggal. kotak sebelah kiri untuk digit angka, dan sebelah kanan untuk digit hari. yang pertama di-set adalah hari-nya dengan cara memutarnya ke arah bawah, baru kemudian mengeset tanggal-nya.
  4. terakhir... menggerakkan pendulum sebagai penunjuk detik. tapi sebelumnya, musti double check posisi garis merah vertikal tadi harus bener-bener lurus ama besi penanda dibawahnya. jika sudah, baru pendulum kita gerakkan ke kiri atau kanan.
yang menarik dari jam ini adalah suara lonceng-nya. teng.. teng.. teng... sometimes a lil’ bit spooky juga. terutama ketika rumah lagi sepi dan kita-nya home alone, ato ketika tengah malam dan lonceng berdentang 12 kali. hikikiki... oiya, jam lonceng ini berdentang tiap setengah jam sekali. misalkan waktu menunjuk tepat pukul 3, loncengnya berdentang 3 kali *teng.. teng.. teng...*. jika di pertengahan waktu, misalnya pukul 3.30, loncengnya berdentang 1 kali *teng..* gimana seru kan, secara suara loncengnya lebih membuat kita ingat waktu. itu juga kalo denger loncengnya... kalo telinga saya seringkali sudah kebal dan menganggap suara lonceng itu sebagai hal biasa. beda lagi dengan teman saya yang baru ato jarang maen ke rumah, mereka selalu kaget tiap kali dengan dentangan loncengnya.

kini jam lonceng dapat anda dapatkan di toko jam kesayangan di kota anda, hekekeke... tapi kalo mo dapet yang benar-benar antik, mending anda coba hunting di pasar loak. kalo di Malang saya bisa rekomendasikan Pasar Comboran dan Pasar Boldy. mmhh... di Pasar Besar lt. 2 juga boleh. bisa juga di toko jam yang khusus menjual jam lonceng di Kayutangan, kalo dari alun-alun toko-nya ada di sebelah kiri jalan. pilihannya bervariatif, ada yang sudah otomatis menggunakan baterei, ada juga yang manual seperti jam lonceng Kakung saya, ada yang modelnya besar dan mewah, ada juga yang kecil dan sederhana. harga-nya juga variatif dan tentunya tidak sesuai dengan isi kantong saya, makanya saya memilih menyimpan jam lonceng milik Kakung daripada menjualnya, hekekeke...

18 comments:

fahmi! said...

hwaduh, mesti rajin ngeset waktu yah? nggak bisa update lewat internet tah? disinkronkan dg UTC gitu? hehe :D

angin-berbisik said...

wah aku juga punya lho 2 jam seperti itu...warisan dr eyang kakung2 juga hehehe....duh aku sayang2 banget pokoknya....

Hiu said...

wah patut diburu nih....
barangkali suatu saat ingin dibagi koleksinya...jangan kemana2 yah cari hiu dan TokoSeni-nya, nilai historinya oke banget. Value by love. Eh salam kenal dulu.

W|zNu said...

Udah barang nya antik , penuh kenangan lagi. Pasti gak akan di jual

Vina Revi said...

eh, iya banget! Jangan dijual lah. Sayang, kan?

btw, epidural anesthesi itu suatu pembiusan lokal yang dilakukan di daerah tulang belakang. Jadi meskipun dilakukan tindakan bedah (misalnya caesar) si pasien akan merasa baal (nggak kerasa sakitnya). eits, meskipun masih gadis, boleh ngerti yang beginian kok, say! :)

CacingKepanasan said...

a bit spooky tapi menarik :)

mitora in life said...

waduh, aku sih rada serem ma jam kyk gitu :D

sluman slumun slamet said...

wah mbahku juga punya tuh...
tinggal di pernis ulang kotak kayunya...

anangyb said...

biar jam jadul tapi keren juga kalau udah masuk blog hehe...

-Fitri Mohan- said...

dulu eyangku ada yang lebih kuno lagi dari itu. jamnya itu kayak lemari single. sayangnya udah dijual.

Anonymous said...

Get your Online Lyric song in http://www.lyrics-x.com

Arafat.BPN said...

sama persis lonceng di rumah ku.....
ternyata cakep juga SEIKO...

Raja Maha Putra said...

Jam peninggalan mbah kakung saya juga sama seperti gambar di atas, tapi sayangnya sekarang sudah rusak gara" tangan aku usil menyetel baut yang ada di bandul itu. Bandulnya jadi enggak seimbang. Tolong yang bisa bantu coret kometar di bawah saya sudah kangen sekali dengan suara lonceng jam antik SEIKO itu

tjahaju said...

@raja: sudah coba diservis ke toko jam?
kalo di malang saya biasanya ke Bintang Harapan, deket pasar besar.

Adhi Sofyan said...

permisi mau nanya, fungsi kedua lubang itu buat apa ya ? dan setiap mensetting jam harus diputar sampai gak bisa diputar lagi, begitu ?
thanks

tjahaju said...

@Adhi Sofyan: kedua lubang itu untuk menghidupkan jam nya, sepertinya untuk setting menit dan detik nya, karena jam ini tidak menggunakan baterai.
dan benar, putar terus sampe dia tidak bisa diputar lagi, biasanya semakin lama akan semakin berat dan akhirnya stuck ga bisa diputar lagi kuncinya ^_^

Munir Nircholaz said...

kalo jam jepang rata2 mutar kunci pada setiap lobangnya berbeda arah putarnya. lubang kiri buat lonceng, muternya searah jarum jam. sedangkan lubang knan buat penggerak jamnya. muternya berlawanan jarum jam.
kalo jam saya Merk Mauthe. muter kuncinya searah jarum jam semua...

Nabil Lahdji said...

Terima kasih cerita jam loncengnya, saya juga punya jam lonceng seperti di atas dan masih berfungsi malah jadi jam utama di tengah rumah, bunyi teng teng sejumlah jam dan bunyi sekali setiap jam jadi keuntungan tersendiri sehingga cukup denger bunyinya saja kita sdh tau jam berapa, cuma masih bingung gimana caranya mencocokkan kecepatan detiknya karena selalu kecepetan, dan juga sdh 10 tahunan lebih tidak pernah dilumas, mohon bisa dijelaskan cara pelumasannya, terima kasih banyak